10.12.08
Berpetualang ke negeri mimpi
Berpetualang ke Negeri Mimpi
Mudik merupakan salah satu budaya tahunan masyarakat Indonesia, terutama pada momen Idul fitri. Mereka akan berusaha sekuat tenaga agar dapat pulang ke kampung halaman. Bahkan melakukan sagala cara demi memuaskan hasrat bertemu dengan sanak saudara nan jauh disana.
Itulah mungkin yang terjadi pada keluarga kami..
Ayah adalah seorang petinggi di Dinas perhubungan Kabupaten Karawang, yang tentunya akan mendapat pekerjaan yang lebih di musim lebaran tahun ini. Maklum kabupaten Karawang merupakan salah satu jalur arus mudik yang sangat ramai, karena merupakan pintu gerbang jalur Pantura. Tapi dengan tekad yang bulat, ayah pun memutuskan untuk mencuri waktu untuk mudik ke surabaya + Lumajang.
Akhirnya dengan bekal yang pas-pasan dan cukup mendadak juga, kami sekeluarga yang terdiri dari ayah,ibu, aku, dan adikku pun berangkat pada senin sore tanggal 29 September 2008 pukul 16.00. Kami memutuskan berangkat menggunakan mobil dinas ayah, yaitu mobil feroza hijau buatan taun 1998 yang sudah sering bolak balik bengkel. Tapi dengan keyakinan mobil baru di service, kita pun nekad berangkat.
Sebenarnya rencana awal kita akan berangkat pada tanggal 1 Oktober, setelah solat Ied. Tapi entahlah, pada senin siang ayah memutuskan untuk berangkat sore harinya.
Perjalanan kala itu cukup lancar, mungkin karena puncak arus mudik sudah lewat. Sehingga ayah pun dapat memacu mobil dengan kencang. Sehingga pada pukul 20.30 kita sudah bisa melihat pintu gerbang kabupaten Tegal.
Memang dari awal perjalanan, aku merasa ada yang berbeda dengan perjalanan kali ini. Semoga perjalanan kali ini akan begitu banyak yang dapat ku ambil manfaat. Sebuah niat berharap perjalanan ini bagaikan petualang ke negeri mimpi. Ya karena sebenarnya hampir setiap waktu, kami sekeluarga bermimpi bertemu dengan keluarga di sana, mungkin sangking begitu lamanya kita tidak mudik sekeluarga.
Alas Roban
Alas Roban adalah nama subuah hutan yang berada di wilayah kabupaten Batang, yaitu diantara Pekalongan dan Semarang. Para pemudik yang menggunakan jalur Utara (Pantura) pasti akrab dengan jalur yang angker ini. Disebut angker, karena di wilayah jalur ini sering terjadi kecelakaan atau mogok kendaraan. Selain itu warga sekitar terkenal tidak ramah. Apalagi jika waktu malam tiba, penerangan yang kurang menambah seramnya daerah ini.
Kita sampai di Alas Roban tepat pukul 00.00. Suasana cukup mencekam, penerangan hanya mengandalkan lampu mobil. Tapi untungnya pemudik juga cukup ramai, sehingga suasana lebih terang karena lampu kendaraan. Ayah pun memacu kencang mobil, begitupun pemudik lainnya, mungkin agar segera keluar dari jalur itu.
Tapi mungkin lagi apes, mobil kita pun mogok……………
Duuuuuugooooooooong…………………
Tepat ditengah-tengah alas roban. Ibu terlihat panik, adik sepertinya tertidur pulas. Aku dan ayah pun keluar, mencoba menyisiri jalan secara bergantian untuk mencari pertolongan. Tapi sepertinya tidak tampak tanda-tanda kehidupan disekitar kami, kecuali para pemudik yang memacu kencang kendaraannya tanpa memperdulikan kami. Sehingga hasilnya pun nihil. Setelah mencoba menganalisis kerusakan, ternyata yang bermasalah adalah bagian kopling, jadi koplingnya blong gtu….
Ayah pun terlihat putus asa, dan memutuskan untuk menginap di mobil sambil menunggu pagi. waduh repot klo gtu mah….Akupun coba menenangkan ayahku dengan mengusulkan untuk meminta tolong pada pemudik lain saja. Jika ada pemudik lain yang bersedia kita minta tolong jika dia ketemu bengkel di depan agar meminta pihak bengkel untuk datang ke posisi mobil kami yang mogok.
Eh kebetulan ada mobil carry merah yang berhenti di depan kita. Entah untuk apa mereka behenti, ayahpun langsung mendatangi mobil merah tersebut untuk meminta bantuan seperti dijelaskan sebelumnya. Ehm harapanpun muncul…..
Eh beberapa saat kemudian ada patroli polisi yang berhenti. Wah kebetulan nich…. pak polisi yang baik hati pun bersedia membantu kita. Mereka mencarikan bengkel dan memanggilkan mobil derek. Kebetulan 1 km di depan ada pos mudik mitsubishi. Pas banget dah………. Akhirnya sang feroza hijau pun di derek menuju bengkel.
Sampai di bengkel jam 01.30 ternyata mereka tidak sanggup memperbaiki di bengkel siluman tersebut (Cuma pas lebaran dank) jadi feroza hijau ini harus dibawa ke bengkel pusat di Semarang…… walah…..
Akhirnya sang feroza hijau ini diangkut ke Semarang. Kita sekeluarga pun semakin kesel…. ”duh kapan nyampenya nich…..?”…
Sampai di Bengkel pukul 04.30. Ternyata mobil tidak bisa langsung diperbaiki, jadi harus menunggu bengkelnya buka jam 08.00….. haduh….. Akhirnya kita tiduran sampe jam 08.00.
Pukul 08.30 mobil mulai diperbaiki dan akhirnya selesai pukul 13.00.
Hehm… 13 jam mogok….
Hari terakhir puasa, muka sudah kusut. Tapi semangat mudik masih membara……
Akhirnya kita pu n memulai kembali perjalanan, dan alhamdulillah lancar sampai Surabaya jam 19.00.
Begitu banya kebetulan dalam peristiwa ini. Tapi sungguh itu bukanlah kebetulan semata, tak tahu apakah hukuman karena banyak amanah yang aku maupun ayah tinggalkan di rumah. Kita hanya bisa banyak Istighfar dalam peristiwa itu.
Kota di pinggir pantai
Salah satu pemandangan yang paling berkesan adalah ketika melewati sebuah kota yang jalur utamanya itu tepat di pinggir pantai. Dan itu cukup panjang, kira-kira 3 km.
Di sebelah kanan terlihat berbagai kantor pemerintahan, dari DPRD sampai kantor walikota. Sedangkan di sebelah kiri terlihat pantai utara jawa yang begitu indah. Begitu ramai para pengunjung duduk-duduk di semacam beton pembatas, yang sepertinya sengaja dibuat untuk menikmati pantai. Pada sore hari itu sambil menunggu buka puasa. Ingin rasanya berhenti sejenak sekedar duduk-duduk melepas penat seharian ini. Tapi ini bukan waktunya membuang waktu lagi. Karena besok sudah tanggal 1 syawal.
Akhirnya kami pun hanya melewati begitu saja kota pinggir pantai itu. Kota itu adalah Tuban…
Hari yang Fitri
Hari terakhir puasa yang begitu melelahkan. Setengah hari pertama menunggu perbaikan mobil di bengkel Semarang, setengah hari kemudian dalam perjalanan. Akhirnya buka puasa terakhir pun terasa begitu nikmat, walau hanya dengan sebotol teh, di dalam mobil pula.
Sungguh perjalanan yang terasa begitu berat. Akhirnya sampai di Surabaya pada malam 1 syawal pukul 19.00.
Sampai disana langsung beres-beres, mandi, langsung istirahat. Wuih sungguh hari yang cukup berat. Tapi mendapat hasil yang tidak sia-sia, karena keluarga surabaya sudah siap menyambut kita.
Keluarga Surabaya adalah keluarga dari ayah. Kakek mbah Karmidi sudah meninggal pada tahun 2007 lalu. Sedangkan nenek mbah Maryamah terlihat masih sehat dan aktif. Ayah terdiri dari 4 bersaudara, keempatnya laki-laki da alhamdulillah pada lebaran ini bisa berkumpul semua.
Paginya sebelum solat shubuh, aku sempatkan untuk merenung sejenak. Sudah apa saja yang aku dapatkan dalam sebulan berpuasa ini. Targetan apa saja yang tercapai. Terus mengevaluasi amalan2 harian. Hasilnya aku hanya berharap agar tahun depan dapat bertemu dengan bulan romadhon kembali.
Hari-hari di bulan ini terasa begitu lama, sehingga lama pula waktu untuk beramal.
Semoga pelatihan yang didapat pada bulan romadhon ini dapat kita teruskan pada bulan2 lainnya….
Seteleh kumpul keluarga di Surabaya pada tanggal 1 Oktober, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lumajang, kota kelahiran Ibu dan adikku.
Lumpur Lapindo
Dalam perjalanan ke Lumajang kami melewati kawasan Porong yang tentu terkenal karena disitulah tempat munculnya Lumpur Lapindo.
Arus lalu lintas di sini macet, tepat di depan tanggul raksasa yang dibuat untuk menampung lumpur yang terus keluar. Suasana sangat panas menambah pengapnya daerah tersebut.
Dari posisi kami, tanggul berada di sebelah kiri. Terlihat begitu besar dan jelas, mungkin andaikan tanggul itu jebol tentu akan langsung menghanyutkan mobil2 yang berada tepat dibawahnya ini termasuk mobil kami.
Keadaan tanahnya terlihat gersang dan kering. Pohon2 besar tertutupi debu, bahkan ada juga pohon besar yang benar2 sudah kering, bagaikan tidak pernah di kasih air selama puluhan tahun. Rumah2 warga pun tidak jauh berbeda, dipenuhi debu.
Toko2 besar di kanan kiri jalan menunjukan bahwa tadinya wilayah ini adalah jalan raya. Tapi sekarang bagaikan kota mati. Masyarakat lebih banyak yang menjadi pedagang asongan, menawarkan dagangan di jalan2 kepada para pengguna jalan yang terjebak macet. Barang dagangan yang ditawarkan diantaranya lumpia, sate kerang, minum-minuman dll. Atau ada juga yang mengamen atau menawarkan jasa petunjuk jalan pintas agar tidak terkena macet. Terlihat ada pasar, tapi tidak ada keramaian di pasar tersebut, hanya sekedar untuk membeli keperluan sehari-hari.
Konon didaerah ini, orang2 kaya mendadak menjadi miskin. Ya itu karena dampak lumpur lapindo yang sangat menyengsarakan.
Kisah tiga wanita soleha
Mungkin ini adalah salah satu alasan engapa aku berniat menulis kisah perjalaan mudikku. Kisah tiga orang wanita soleha dengan berbabagai cobaan yang dihadapinya. Dengan berbagai pertentangan yang di alaminya. Tapi sekarang mereka dapat mulai mengais hasil dari kekuatan izzah mereka. Kekuatan taqwa yang ditakdirkan Allah SWT menopang pondasi rumah mereka. Dan cahaya iman yang di takdirkan Allah SWT terpancar dari rumah mereka.
Mereka masih memiliki hubungan kerabat denganku, yaitu dari keluarga Ibuku. Jika diurutkan dalam silsilah, sang Ibu merupakan adik dari kakekku. Sehingga akupun sering bersilaturahim ke kediaman mereka, dan banyak bercerita tentang berbagai hal.
Keluarga ini terdiri dari seorang ayah dan ibu, dua orang putri dan seorang putera. Sebelumnya keluarga ini terlihat biasa saja seperti keluarga pada umumnya, tapi suatu peristiwa besar telah mengubah keluarga ini sehingga cahaya itupun seperti ditakdirkan terpancar dari rumah mereka.
Peristiwa itu adalah meninggalnya sang ayah karena sakit, lalu beberapa bulan sang putera pun menyusul sang ayah. Sehingga tinggal 3 orang wanita yang menghuni rumah itu.
Merupakan cobaan yang sangat berat bagi seorang ibu, ketika harus menjadi kepala keluarga lalu secara medadak puteranya dipanggil kepada Yang Maha Kuasa.
Tapi ternyata Allah telah menimpakan cahaya itu melalui cobaan yang berat. Sungguh cobaan yang berat itu hanya untuk orang2 yang benar2 bertaqwa agar semakin bertambah kualitas taqwanya.
Sang ibu memang memiliki dasar keislaman yang kuat, sehingga beliau mentarbiyah kedua putrinya dengan islam yang kaffah, berdasarkan kasih sayang seorang ibu dan ketegasan seorang muslimah. Walau banyak orang yang berkata macam2 tapi sang ibu tetap dengan pendiriannya, mendidik anaknya dengan caranya sendiri.
Kedua putrinya pun menjadi muslimah yang baik. Mereka menjadi salah satu penopang dakwah di sekolah masing2. Dengan berbagai kegiatan, untuk meningkatkan amal dan taqwa.
Tapi cerita utama dari kisah ini adalah ketika kedua puterinya telah lulus dari sekolah. Ya tentunya bersiap untuk menikah. Sang kakak telah lulus dua tahun yang lalu dan telah menikah dengan seorang salaf yang lebih tua 7 tahun. Sekarang mereka telah di karuniai seorang puteri.
Sang adik baru lulus tahun ini, dan dinikahkan beberapa bulan yang lalu. Yang membuatku jadi malu sendiri. Jadi sang ibu sebelum menerima lamaran sang menantu, beliau menyelidiki dahulu siapakah gerangan sang menantu, bagaimana nasabnya, bagainmana akhlaqnya, yang terutama bagaimana keimanannya.
Sang menantu yang satu ini adalah NU tulen, dia sudah rutin puasa daud sejak SMA. Nasab nya juga bagus, karena keluarganya adalah keluarga ulama. Bayangkan saja, salah satu pamannya, namanya diabadikan menjadi nama masjid terbesar di kota Lumajang di tengah alun-alun kota. Terbayang nasab nya yang bagus. Akhlaknya pun sangat baik kepada orang tua, ilmu fikihnya kuat. Dari kemampuan finansialnya dia sudah bekerja dan punya rumah sendiri, jadi secara lahir bathin insyaAllah dia sudah siap.
Sang calon menantu ini mengenal sang puteri melaui drama teater yang kebetulan ditontonnya, dan kebetulan juga sang puteri ikut berperan dalam drama itu.Sang calon menantu pun mulai sering silaturahim ke rumah sang puteri. Inilah kekuatan akhwat sejati, ketika ada ikhwan yang datang kerumah maka yang menemuinya pertama kali adalah sang ibu. Maka mulai dari situ lah sang ibu mulai mencari jati diri sang calon menantu, dan beberapa kali sang calon menantu silaturahim ke rumah. Akhirnya sang ibu pun mulai menanyakan maksud dari kedatangan dia. Dan dengan meyakinkan dan sopan dia pun menyatakan akan melamar sang puteri. Setelah berbagai proses lamaran yang cukup, mereka pun menikah.
Dan aku bertemu dengan keluarga itu saat bersilaturahim ke tempat nenek ku itu. Sungguh peryataan yang menyatakan bahwa cinta itu timbul dari keseringan bertemu itu jadi agak diragukan, karena sungguh dalam cerita ini cinta itu timbul karena Allah SWT. Jadi mereka memutuskan untuk menikah karena Allah SWT, lalu cinta muncul di antara mereka. Jadi bukan cinta dulu diantara mereka, lalu menikah karena Allah SWT.
Wah sungguh jika semua ibu dari akhwat yang baik menyeleksi calon menantunya seperti itu, mungkin aku ini gak akan kebagian.