09.08.08

Tarbiyah Dzatiyah

Posted in Resume buku at 4:03 pm by 16agustus

Tarbiyah Dzatiyah ialah sejumlah saran tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang muslim atau muslimah kepada dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, social, dan lain sebagainya, sehingga naik ke tingkatan kesempurnaan sebagai manusia.

Atau dengan kata lain, tarbiyah dzatiyah adalah tarbiyah seseorang terhadap diri sendiri dengan dirinya sendiri.

Sehingga tarbiyah dzatiyah berbeda dengan tarbiyah jama’I (kolektif), seperti pada forum-forum yang umum.

Adapun urgensi tarbiyah dzatiyah adalah :

  1. Menjaga diri mesti di dahulukan daripada menjaga orang lain; sebagaimana dalam sebuah ayat yang artinya “aHai orang-orang yang beriman jaalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (At-Tahrim:6)
  2. Jika anda tidak mentarbiyah diri sendiri, lalu siapa lagi ?;
  3. Hisab kelak bersifat individual;
  4. Tarbiyah Dzatiyah lebih mampu mengadakan perubahan;
  5. Sarana dakwah yang paling kuat

Selain itu ada beberapa factor yang menyebabkan seseorang mengabaikan tarbiyah untuk dirinya sendiri ini, diantaranya :

  1. Minimnya ilmu;
  2. Tidak punya tujuan hidup yang jelas;
  3. Lengket dengan dunia;
  4. pemahaman yang salah terhadap tarbiyah (pembinaan);

Selain itu ada beberapa sarana tarbiyah yang dapat dilakukan setiap orang, yaitu :

Muhasabah

Adalah sebuah proses mengevaluasi diri atas apa yang dikerjakan selama waktu satu hari. Diharapkan muhasabah ini dilakukan setiap hari, dengan tekad hari esok harus lebih baik dari hari ini. Dan dengan taubat nasuha.

Ada beberapa jenis muhasabah yaitu :

  1. Muhasabah diri atas ketaatan kepada Allah ta’ala yang ia lalaikan. Artinya ia tidak mengerjakan sebagaimana mestinya;
  2. Muhasabah diri atas perbuatan yang lebih baik tidak ia kerjakan daripada ia kerjakan;
  3. Muhasabah diri dari hal-hal yang mubah dan wajar. Yaitu mengapa ia mengerjakan hal itu. Apakah ia mengerjakannya karena Allah ta’ala dan akherat atau dunia.

Taubat dari segala dosa

Dalam sebuah ayat yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya” (At-Tahrim : 8).

Mencari ilmu dan memperluasan wawasan

Terutama ilmu-ilmu yang menunjang wawasan mengenai Islam, pengembangan karakter, dan sebagainya yang bermanfaat.

Mengerjakan amalan-amalan iman

Misalnya :

  1. Mengerjakan amalan wajib seoptimalnya; seperti solat wajib berjamaah, tidak ketinggalan takbiratul ihram, puasa bulan Ramadhan, membaca dan mentadaburi Al-Quran, dll;
  2. Meningkatkan porsi ibadah sunnah; seperti tahajjud, dhuha, salat rawatib, puasa senin-kamis, dll;
  3. Berdzikir;

Memperindah akhlak (moral)

Seperti : sabar, membersihkan hati dari akhlak tercela, bergaul dengan orang yang berakhlak mulia, memperhatikan etka umum.

Terlibat dalam aktivitas dakwah

Sebagaimana dalam sebuat surat yang artinya “ Demi masa. Sungguh mnusia benar-benar dalam keadaan rugi. Kecuali mereka yang beriman dan mendirikan solat. Saling memberi nasehat kepada kebaikan, dan saling menasehati dalam kesabaran” (Al-Ashr :1-3)

Mujahadah (jihad)

Bersungguh-sungguh dalam menegakkan islam.

Berdoa dengan tulus kepada Allah ta’ala

sebagaimana dalam sebuah ayatyang artinya “ Dan Tuhanku berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan (doa) kalian” (Ghafir :60)

judul buku : Tarbiyah Dzatiyah

pengarang : Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan

08.10.08

“Konsistensi menyongsong kematian husnul khatimah”

Posted in Resume buku at 12:44 am by 16agustus

“Konsistensi menyongsong kematian husnul khatimah”

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan menjemput manusia, namun secara umum pembicaraan tentang kematian bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan naluri manusia cenderung ingin hidup seribu yahun lagi. Sebagaimana dilukiskan Al-Quran: “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka seloba-loba manusia kepada kehdupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang- orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan dari siksa. Dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah:96).

Banyak faktor yang menyebabkan orang takut akan kematian. Ada orang yang takut mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian, mungkin juga karena merasa bahwa yang dimilikinya sekarang lebih baik dari apa yang akan dimilikinya nanti. Ada juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati, mungkin karena khawatir memikirkan atau prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan atau karana tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya sehingga mereka merasa cemas dan taku menghadapi kematian. Dari sini lahir pandangan-pandangan optimis dan pesimistis terhadap kematian dan kehidupan.

Islam sebagai tuntutan hidup manusia mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari suatu perjalanan panjang dalam evolusi kehidupan manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kesenangan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.

Dalam mengingat kematian ini, Imam Al-Ghazali memagi manusia kepada tiga tingkatan. Pertama : Al-Munhamik, yaitu orang yang tenggelam dalam tipu daya dan hawa nafsu dunia. Ia tidak mengingat kematian dan enggan untuk diingatkan orang tentang kematian. Dan manakalah diingatkan justru akan menjauhkannya dari Tuhannya. Orang seperti ini kurang mempersiapkan bekal untuk menghdapi kematianbahkan justru bergelimang dosa dan maksiat.

Kedua: At-Taib, yaitu orang yang selalu bertaubat memohon ampunan dari Allah. Iapun banyak mengingat kematian yang mendorongnya beramal dan mempersiapkan bekal. Kalaulah ia tidak menyukai kematian, tidak lain karena khawatir bekal yang dipersiapkannya belum cukup sehingga dala kondisi demikian ia takut menghadap Allah.

Ketiga: Al-Arif, yaitu orang yang mengetahui posisi dirinya di hadapan Allah. Ia senantiasa mengingat kematian, bahkan ia selalu menanti saat kematian itu. Karena baginya kematian adalah momentum perjumpaan dengan Allah, Dzat yang selama ini dicintainya dan dirindukannya dan ia memiliki bekal dan persiapan penuh untuk menghadapi kematian.

judul : Konsistensi Menyongsong Kematian Husnul Khatimah

penulis: M. Anis Matta

penerbit : Fitrah Rabbani